Minggu, 08 April 2012

Mr Hp 8


BANGKIT

Sekarang ini aku ingin menjalani hidup ini biasa saja, makin aku cinta dia
makin lama aku tambah tersiksa
makin lama aku bisa tambah cinta dalam kondisi ini baik oleh senyumannya, wajahnya pipinya
 sementara itu keadaan ini sudah bikin aku gak bisa mikir. Seperti masuk pada garis mata orang berkacamata silinder
sekarang aku  berfikir untuk memperbaiki image diriku yang kadang basah dicap menceng aneh + badung oleh Buset dan anak-anak sesekolahan.
*******
Malam yang terus berdenting, kurebahkan badanku yang udah  lelah bicara lewat telephone dari jam sebelas malam sampai jam setengah satu pagi terpaksa mendengarkan curhatan Sia, (terpaksa sampai terbiasa mendengarnya) yang tak henti-hentinya bercerita tentang cowok barunya yah…kata dia sekarang ini dia sangat bahagia.
Malam yang bercampur pagi
Masih sekitar jam satu pagi saat Hp-ku berguncang-guncang “Siapa sih…?      Misscall-misscall malam-malam begini telephone…Ugz…”
Dengan sangat terpaksa aku mengangkat Hp-ku itu yang baru selesai dicharge “Hallo…apa ada yang penting…? maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau atau malas menerima panggilan…silahkan banting Hp anda, atau tinggalkan pesan setelah nada ini, aku bukan drakula lagi….”
Ucapku bernada kurang niat “ha…ha…ha…. Kudengar tawa ngakak yang nadanya lembut agak ngebass sedikit standar anak cowok”
“Di…ini…”
 “ Maaf…Rom gue gak mau tahu urusan kalian…”
“Etz…ini gue Bangkit tetangganya Sia bukan mantanya Sia (duh…Bangkit…kukira Romi), kamu jangan tutup telephonenya dulu dong”
 “Ah…., ah….boleh…tapi maaf Mas Bangkit udah denger kan suaranya Di…” “Iya, emang kenapa...?”
“Nah aku ngantuk pingin bobo, besok aja yah, mas Bangkit mau ngomong apa Di mau aja kok…tapi kalau sekarang gak…deh…” kudengar nada kecewa juga “Oh…iya besok dimana Di…”
“ Di maunya dirumah, met malem mas Bangkit…”
tut…tut…tut… (yah dimatiin aku berhenti bicara, langsung saja mematikan Hp)
     Tiba-tiba pandang ini melayang keluar pada jernihnya kaca jendela yang meneruskan cahaya ribuan bintang “Indahnya….malam ini banyak sekali bintang, puluhan detik ini melayang bersama pandangku dan langkah pelan ketempat dimana aku biasa duduk termenung sesekali makan rujak pada bangku panjang samping rumah, tempat ini mengingatkan masa kecilku yang super ramai bersama Sia, Ratri, Yuke dari polosnya sampai pada keadaan ini dimana kami mempunyai karakter berbeda yang kadang melukai satu sama lain dalam sebuah kebersamaan ini
“Coba…saja kita masih seperti dulu…., masih belum berfikir mau melangkah kemana…friends…masih lugu .
Mata yang lelah akan hidup ini mulai ngerasa jenuh , badan yang juga benci ironi ini bersandar pada pandang mata yang menutup bintang-bintang kemilau, badanku ini butuh sandaran
 Seperti tidak ada akar untuk berteguh pikir sama seperti otaku yang naik turun kadang bener kadang aneh…tempat .yang seharusnya untuk membuat rujak saat panas-panas ,malah dipakai buat tidur
Alhasil saat aku bangun , dunia ini seperti berputar selain itu badanku juga panas , aku bangun kira-kira jam setengah lima pagi masih terlalu pagi buat bangun , ya baru sekitar 3 jam aku tidur
Terpaksa aku tiduran lagi , gak kuat deh kalau haraus pergi sekolah ,setelah minum paracetamol aku langsung tidur
Sampai teriakan keras kembali buat aku bangun  
Sia…berlari dengan denting langkahnya yang keras.
“Gue….gak kuat rasanya berat, bumi berputar-putar gak jelas”.ucapku menahan dia agar gak banyak bicara lagi

 “Duh…Di, kamu beneran sakit gak bisa berangkat”,dia mengucapkan itu sambil mengeluarkan pulpen dan selembar kertas
“Iya, Si…sakit berat makannya buatin surat izin sakit…dah…, mau kan…?”   “Nah…udah tenang aja, ini gue sudah siapin…Di…” Sia terus menulis, sesekali dia bertanya dengan nada usil agak centil
 “Oh…apa gara-gara semalem telephonan sampai pagi…, Iya ngomong-ngomong gimana si Bangkit, loe suka kagak…, iya…sekarang lagi ada tarif promo kalau malam kan telephone gratis Di…nalo….?”
“Nih…lihat mata gue jelas-jelas malah kebanyakan tidur , bisanya setelah lo telpon aku kan gak biasa tidur sampai pagi , aku memperlihatkan ekspresi ngantuk “Oh…iya…juga kalau elo tidur nanggung ya gini deh jadinya” Sia terlihat sibut melipat surat izinku…
.”Yo wis, Sia berangkat duluan bye…Diyas…, dasar Diyas kalau soal gini an loadingnya lama benget “
Aku yakin pasti Sisi niat menjodohkan aku dengan Si Bangkit tetangganya , mataku yang udah ngantuk banget ini bikin aku males nglayanian omongana Sisi lagi
Ruangan bener-bener lengang setelah anak centil itu pergi
Bantal-bantal tak sanggup aku hindari lagi, tak butuh waktu lama setengah jam aku sudah molor seperti batu…, pelan dalam ketenangan tidur aku merasa neneku menyelimutiku….
*******
“Permisi…Nek…”
Suara itu datang mengusik ketenangan tidurku, terdengar santai mengetuk pintu rumah
Bangkit apa benar yang datang Bangkit , aku bergegas menatap keluar jendela
“Buset…Mr. HP, Bangkit, Habib, Sia, Ratri, Yuke…datang rame-rame, emang gue sakit apaan…sampai sebegitunya.”
Hatiku berdebar , kenapa Mr . Hp mau datang ketempat ku , rasanya aneh banget apa dia udah berhenti marah…?
Aku langsung pasang gelas di dinding rumah lalau nguping apa yang lagi mereka omongin
mereka semua berbicara pelan dan pelan…jadi harus mendengarkan dengan tenang, konsentrasi sesekali menarik nafas panjang.
“ Eh…Bangkit lama gak pernah ketemu…, kalau gak slah waktu kamu usia 7 tahun… aduh…sekarang udah gede…cakep…keren…sampai pangling”
Nenek masih ingat juga…sama Bangkit yang dulu gendut, pendek, giginya kaya drakula….”
 “Ya…masih…dong…, dulu kamu kan yang paling rajin beli pecel nenek…sesekali makan 5 bungkus lagi, belum lagi rujaknya 2 bungkus (dulu sebelum pindah ke simpang lima …neneku jualanan pecel, rujak, es disamping terminal lama…., dan dia selalu hafal nama pelanggannya sampai sekarang ini, ya walaupun sudah umur 67 tahun…, itu juga alasanku hoby makan rujak…bareng temen rame-rame…, katanya sih…aku ada bakat….jadi tukang rujak n pecel )
“ Nah…, kalau sebelahnya…Habib kan anaknya pak Randy jalan petai…kan…, udah tambah ganteng…. Keren…aja…, sekarang bapakmu dimana, apa masih kerja…di SMA satu…”
 “ Ah…Nenek bisa aja… deh…bapak…sekarang di SMA 2, (kenapa nenek nggak muji Mr. HP, tanyaku heran) “Nah…lah yang senyum-senyum terus…Mr….HP,… oh…jadi ini tho anaknya….”
“Oh…iya…nenek, maaf…nek kok bisa tahu…sih…Nofit kan belum pernah…main…”
 “Oh…ya jelas tahu, Di kan pernah cerita ada anak yang
( karena namanya No.Fit (tidak wajar) Hepi (senyum bahagia) Pengestu… (harapan, restu) jadinya anak yang senyumnya tidak wajar, yang memang diharapkan oleh orang tuanya) yang wajahnya Hepi banget…senyu….m terus…., senyum sana, senyum sini ) sering senyum dan selalu obral senyum , persis model pastagigi aja .”
Tiba-tiba saja mereka tertawa keras-keras…ha…ha…ha…(ih…aku pingin banget melihat senyum Mr. HP)
“ Di…buka dong…,….! ”
 Spontan aku menggeletakan gelas nguping seketika berbalik kearah pintu dan alangkah kagetnya aku yang mulai salah tingkah .
 “Hayo…lagi nguping apa…” goda Sia centil samar-samar otaku merangkai sebuah kata…
 “Eh…apaan sih…ah…kha…enggak, siapa yang nguping tapi…”
 “Tapi Cuma pingin tahu aja, nenek ngobrol apa saja, ya…sama aja kali Diyas-Diyas “senyum Ratri lebar membahana ruangan makin menjepit aku apalagi Ia BILANG
Selamat ya kamu udah laku
“ Maksud lo………? Aku gak ngerti……….”
“ No Yuke aja ,emang udah berapa lama dia pdkt ……….Yas………..”
Aku Cuma bisa diam sesekali mlirikin Sisi
“ Udah Di , nih Bangkit nitipin sesuatu 
Sembari membuka tas yang terlihat penuh sesak Yuka memberiku sebuah foto dengan baju Blezer Coklat, foto Bangkit Kranadi .
 “ Lah…Yuke…kok foto, maksudnya aku  dikasih foto…??? “
“ Nah…gue gak tahu…, tapi Bangkit keren kan…, dia juga nitipin ini…”
Sebuah kotak berwarna biru muda, tanpa pernak-pernik, polos tidak ada pita yang menempel disamping kota ada beberapa lubang bundar, ada tulisan dari dua kata untuk Diyas yang diteruskan dengan tanda titik panjang….tergambar dengan tinta print hitam pekat…..
Ada apa…ini, apa aku sudah masuk sekenario Sia, atau Cuma salah sangka…, sampai pada sebuah kata tanya itu menjalin pilihan gundah yang bikin  aku tambah pusing, aku…tidak mau ngalamin apa yang Sia alami , jadi remaja yang aktif .
Aku mulai curiga dan berpikiran macam-macam
 Titik…titik yang ada di kotak itu mungkin aja , ungkapan dua kata Love…You… aku sering  melihat hal ini terjadi pada teman-temanku, Sia…dan Romy…masih banyak yang lain sampai aku hafal cara-cara orang mau pdkt walaupun belum pernah ngalamin…
“Duh…ini…diterima, apa dikembalikan…Sia, Rat, Yuk….??” Tanyaku pelan seperti serba salah…
 “Itu sih terserah kamu aja, Di…kalau kamu merasa klop…ya terima aja…” jawabnya…bikibn aku  pusing sama seperti ekspresi wajah Ratri…itu
“Kalau menurut Sia diterima aja dong, kan…Bangkit gantheng…. Sudah baik hati… seperti itu (nah…nah kalau anak satu ini sih percaya pasti diterima…).
“Di sebaiknya kamu ngobrol aja dulu maksudnya apa..an…, tapi elu jangan langsung nyaplok keintinya, jadinya dia gak marah, nah kalau gak ada maunya diterima aja…” (Aku tidak terlalu biasa…ngobrol panjang lebar) Yuke memberiku sinar mata yang tegas.
“Maaf banget…Diyas…, Aisyah (Sia), Ratri, Yuke harus balik dulu, masalahnya nanti pelajarannya bu Goreti, Biologi, mau ada praktikum kan…” “Tapi…kalian…kan, jawab dong…, ku masih bingung nih….”
“Oh…gitu anggap aja ulangan kimia pertama…Di…” Sia tersenyum centil… “perasaan yang dapat nilai tertinggi kan aku jadi gak ada alesan kan buat pusing “ …(dasar, dia…ya benar-benar pingin ngejodohin…aku…)
Mereka semua menampakan senyum beragam, senyum manisnya Sia, senyum datar Ratri, senyum tegas Yuke….saat mereka berjalan keluar meninggalkanku untuk berpikir sendiri…membiarkan mereka mengukir kesan-kesan yang bakal dijadikan bahan cerita, komentar…terus sibuk duduk berjam-jam di kantin sekolah atau istana pedas, cafe….
Aku jadi bingung , akhir-akhir ini aku ngerasa banyak yang mau Pdkt anehnya itu semua dari geng anak X1 IPA 2 ,dari yang curi-curi kesempatan atau sms bergombal-gombal ria
     Ah…………aku capai dengan ini semua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar