BANGKIT
Sekarang ini
aku ingin menjalani hidup ini biasa saja, makin aku cinta dia
makin lama aku
tambah tersiksa
makin lama aku
bisa tambah cinta dalam kondisi ini baik oleh senyumannya, wajahnya pipinya
sementara itu keadaan ini sudah bikin aku gak
bisa mikir. Seperti masuk pada garis mata orang berkacamata silinder
sekarang aku berfikir untuk memperbaiki image diriku yang
kadang basah dicap menceng aneh + badung oleh Buset dan anak-anak sesekolahan.
*******
Malam yang terus berdenting,
kurebahkan badanku yang udah lelah
bicara lewat telephone dari jam sebelas malam sampai jam setengah satu pagi
terpaksa mendengarkan curhatan Sia, (terpaksa sampai terbiasa mendengarnya)
yang tak henti-hentinya bercerita tentang cowok barunya yah…kata dia sekarang
ini dia sangat bahagia.
Malam yang bercampur pagi
Masih sekitar jam satu pagi saat
Hp-ku berguncang-guncang “Siapa sih…? Misscall-misscall
malam-malam begini telephone…Ugz…”
Dengan sangat terpaksa aku mengangkat
Hp-ku itu yang baru selesai dicharge “Hallo…apa ada yang penting…? maaf nomor
yang anda tuju sedang tidak aktif atau atau malas menerima panggilan…silahkan
banting Hp anda, atau tinggalkan pesan setelah nada ini, aku bukan drakula
lagi….”
Ucapku bernada kurang niat
“ha…ha…ha…. Kudengar tawa ngakak yang nadanya lembut agak ngebass sedikit
standar anak cowok”
“Di…ini…”
“ Maaf…Rom gue gak mau tahu urusan kalian…”
“Etz…ini gue Bangkit tetangganya
Sia bukan mantanya Sia (duh…Bangkit…kukira Romi), kamu jangan tutup
telephonenya dulu dong”
“Ah…., ah….boleh…tapi maaf Mas Bangkit udah
denger kan suaranya Di…” “Iya, emang kenapa...?”
“Nah aku ngantuk pingin bobo,
besok aja yah, mas Bangkit mau ngomong apa Di mau aja kok…tapi kalau sekarang
gak…deh…” kudengar nada kecewa juga “Oh…iya
besok dimana Di…”
“ Di maunya dirumah, met malem mas
Bangkit…”
tut…tut…tut… (yah dimatiin aku
berhenti bicara, langsung saja mematikan Hp)
Tiba-tiba
pandang ini melayang keluar pada jernihnya kaca jendela yang meneruskan cahaya
ribuan bintang “Indahnya….malam ini banyak sekali bintang, puluhan detik ini
melayang bersama pandangku dan langkah pelan ketempat dimana aku biasa duduk
termenung sesekali makan rujak pada bangku panjang samping rumah, tempat ini
mengingatkan masa kecilku yang super ramai bersama Sia, Ratri, Yuke dari
polosnya sampai pada keadaan ini dimana kami mempunyai karakter berbeda yang
kadang melukai satu sama lain dalam sebuah kebersamaan ini
“Coba…saja kita masih seperti
dulu…., masih belum berfikir mau melangkah kemana…friends…masih lugu .
Mata yang lelah akan hidup ini
mulai ngerasa jenuh , badan yang juga benci ironi ini bersandar pada pandang
mata yang menutup bintang-bintang kemilau, badanku ini butuh sandaran
Seperti tidak ada akar untuk berteguh pikir sama
seperti otaku yang naik turun kadang bener kadang aneh…tempat .yang seharusnya
untuk membuat rujak saat panas-panas ,malah dipakai buat tidur
Alhasil saat aku bangun , dunia
ini seperti berputar selain itu badanku juga panas , aku bangun kira-kira jam
setengah lima pagi masih terlalu pagi buat bangun , ya baru sekitar 3 jam aku
tidur
Terpaksa aku tiduran lagi , gak
kuat deh kalau haraus pergi sekolah ,setelah minum paracetamol aku langsung
tidur
Sampai teriakan keras kembali buat
aku bangun
Sia…berlari dengan denting
langkahnya yang keras.
“Gue….gak kuat rasanya berat, bumi
berputar-putar gak jelas”.ucapku menahan dia agar gak banyak bicara lagi
“Duh…Di, kamu beneran sakit gak bisa
berangkat”,dia mengucapkan itu sambil mengeluarkan pulpen dan selembar kertas
“Iya, Si…sakit berat makannya
buatin surat izin sakit…dah…, mau kan…?” “Nah…udah
tenang aja, ini gue sudah siapin…Di…” Sia terus menulis, sesekali dia bertanya
dengan nada usil agak centil
“Oh…apa gara-gara semalem telephonan sampai
pagi…, Iya ngomong-ngomong gimana si Bangkit, loe suka kagak…, iya…sekarang
lagi ada tarif promo kalau malam kan telephone gratis Di…nalo….?”
“Nih…lihat mata gue jelas-jelas
malah kebanyakan tidur , bisanya setelah lo telpon aku kan gak biasa tidur sampai
pagi , aku memperlihatkan ekspresi ngantuk “Oh…iya…juga kalau elo tidur
nanggung ya gini deh jadinya” Sia terlihat sibut melipat surat izinku…
.”Yo wis, Sia berangkat duluan
bye…Diyas…, dasar Diyas kalau soal gini an loadingnya lama benget “
Aku yakin pasti Sisi niat
menjodohkan aku dengan Si Bangkit tetangganya , mataku yang udah ngantuk banget
ini bikin aku males nglayanian omongana Sisi lagi
Ruangan bener-bener lengang
setelah anak centil itu pergi
Bantal-bantal tak sanggup aku
hindari lagi, tak butuh waktu lama setengah jam aku sudah molor seperti batu…,
pelan dalam ketenangan tidur aku merasa neneku menyelimutiku….
*******
“Permisi…Nek…”
Suara itu datang mengusik
ketenangan tidurku, terdengar santai mengetuk pintu rumah
Bangkit apa benar yang datang
Bangkit , aku bergegas menatap keluar jendela
“Buset…Mr. HP, Bangkit, Habib,
Sia, Ratri, Yuke…datang rame-rame, emang gue sakit apaan…sampai sebegitunya.”
Hatiku berdebar , kenapa Mr . Hp
mau datang ketempat ku , rasanya aneh banget apa dia udah berhenti marah…?
Aku langsung pasang gelas di
dinding rumah lalau nguping apa yang lagi mereka omongin
mereka semua berbicara pelan dan
pelan…jadi harus mendengarkan dengan tenang, konsentrasi sesekali menarik nafas
panjang.
“ Eh…Bangkit lama gak pernah
ketemu…, kalau gak slah waktu kamu usia 7 tahun… aduh…sekarang udah
gede…cakep…keren…sampai pangling”
Nenek masih ingat juga…sama
Bangkit yang dulu gendut, pendek, giginya kaya drakula….”
“Ya…masih…dong…, dulu kamu kan yang paling
rajin beli pecel nenek…sesekali makan 5 bungkus lagi, belum lagi rujaknya 2
bungkus (dulu sebelum pindah ke simpang
lima …neneku jualanan pecel, rujak, es disamping terminal lama…., dan dia
selalu hafal nama pelanggannya sampai sekarang ini, ya walaupun sudah umur 67
tahun…, itu juga alasanku hoby makan rujak…bareng temen rame-rame…, katanya
sih…aku ada bakat….jadi tukang rujak n pecel )
“ Nah…, kalau sebelahnya…Habib kan
anaknya pak Randy jalan petai…kan…, udah tambah ganteng…. Keren…aja…, sekarang
bapakmu dimana, apa masih kerja…di SMA satu…”
“ Ah…Nenek bisa aja… deh…bapak…sekarang di SMA
2, (kenapa nenek nggak muji Mr. HP, tanyaku heran) “Nah…lah
yang senyum-senyum terus…Mr….HP,… oh…jadi ini tho anaknya….”
“Oh…iya…nenek, maaf…nek kok bisa
tahu…sih…Nofit kan belum pernah…main…”
“Oh…ya jelas tahu, Di kan pernah cerita ada
anak yang
( karena namanya No.Fit (tidak wajar) Hepi (senyum bahagia) Pengestu…
(harapan, restu) jadinya anak yang senyumnya tidak wajar, yang memang
diharapkan oleh orang tuanya) yang wajahnya Hepi banget…senyu….m terus….,
senyum sana, senyum sini ) sering senyum dan selalu obral senyum , persis
model pastagigi aja .”
Tiba-tiba saja mereka tertawa
keras-keras…ha…ha…ha…(ih…aku pingin banget melihat senyum Mr. HP)
“ Di…buka dong…,….! ”
Spontan aku menggeletakan gelas nguping
seketika berbalik kearah pintu dan alangkah kagetnya aku yang mulai salah
tingkah .
“Hayo…lagi nguping apa…” goda Sia centil
samar-samar otaku merangkai sebuah kata…
“Eh…apaan sih…ah…kha…enggak, siapa yang
nguping tapi…”
“Tapi Cuma pingin tahu aja, nenek ngobrol apa
saja, ya…sama aja kali Diyas-Diyas “senyum Ratri lebar membahana ruangan makin
menjepit aku apalagi Ia BILANG
Selamat ya kamu udah laku
Selamat ya kamu udah laku
“ Maksud lo………? Aku gak
ngerti……….”
“ No Yuke aja ,emang udah berapa
lama dia pdkt ……….Yas………..”
Aku Cuma bisa diam sesekali
mlirikin Sisi
“ Udah Di , nih Bangkit nitipin
sesuatu “
Sembari membuka tas yang terlihat
penuh sesak Yuka memberiku sebuah foto dengan baju Blezer Coklat, foto Bangkit
Kranadi .
“ Lah…Yuke…kok foto, maksudnya aku dikasih foto…??? “
“ Nah…gue gak tahu…, tapi Bangkit
keren kan…, dia juga nitipin ini…”
Sebuah kotak berwarna biru muda,
tanpa pernak-pernik, polos tidak ada pita yang menempel disamping kota ada
beberapa lubang bundar, ada tulisan dari dua kata untuk Diyas yang diteruskan
dengan tanda titik panjang….tergambar dengan tinta print hitam pekat…..
Ada apa…ini, apa aku sudah masuk
sekenario Sia, atau Cuma salah sangka…, sampai pada sebuah kata tanya itu menjalin
pilihan gundah yang bikin aku tambah
pusing, aku…tidak mau ngalamin apa yang Sia alami , jadi remaja yang aktif .
Aku mulai curiga dan berpikiran
macam-macam
Titik…titik yang ada di kotak itu mungkin aja
, ungkapan dua kata Love…You… aku sering
melihat hal ini terjadi pada teman-temanku, Sia…dan Romy…masih banyak
yang lain sampai aku hafal cara-cara orang mau pdkt walaupun belum pernah ngalamin…
“Duh…ini…diterima, apa
dikembalikan…Sia, Rat, Yuk….??” Tanyaku pelan seperti serba salah…
“Itu sih terserah kamu aja, Di…kalau kamu
merasa klop…ya terima aja…” jawabnya…bikibn aku pusing sama seperti ekspresi wajah Ratri…itu
“Kalau menurut Sia diterima aja
dong, kan…Bangkit gantheng…. Sudah baik hati… seperti itu (nah…nah kalau anak
satu ini sih percaya pasti diterima…).
“Di sebaiknya kamu ngobrol aja
dulu maksudnya apa..an…, tapi elu jangan langsung nyaplok keintinya, jadinya
dia gak marah, nah kalau gak ada maunya diterima aja…” (Aku tidak terlalu
biasa…ngobrol panjang lebar) Yuke memberiku sinar mata yang tegas.
“Maaf banget…Diyas…, Aisyah (Sia),
Ratri, Yuke harus balik dulu, masalahnya nanti pelajarannya bu Goreti, Biologi,
mau ada praktikum kan…” “Tapi…kalian…kan, jawab dong…, ku masih bingung nih….”
“Oh…gitu anggap aja ulangan kimia
pertama…Di…” Sia tersenyum centil… “perasaan yang dapat nilai tertinggi kan aku
jadi gak ada alesan kan buat pusing “ …(dasar, dia…ya benar-benar pingin
ngejodohin…aku…)
Mereka semua menampakan senyum
beragam, senyum manisnya Sia, senyum datar Ratri, senyum tegas Yuke….saat
mereka berjalan keluar meninggalkanku untuk berpikir sendiri…membiarkan mereka
mengukir kesan-kesan yang bakal dijadikan bahan cerita, komentar…terus sibuk
duduk berjam-jam di kantin sekolah atau istana pedas, cafe….
Aku jadi bingung , akhir-akhir ini
aku ngerasa banyak yang mau Pdkt anehnya itu semua dari geng anak X1 IPA 2
,dari yang curi-curi kesempatan atau sms bergombal-gombal ria
Ah…………aku
capai dengan ini semua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar