Ketemu Mr. HP
Wajah dan Mix Smile
Hari….pertama dan pelajaran
pertama….
Fisika, Kimia, Biologi,
Matematika….
Dan selalu saja ada sebuah perkenalan untuk
mengawali sebuah pertemuan.
Berhubung guru Fisika, Biologi, Matematika lagi study banding ke Sibolga, jam pertama diisi
Bu Setyo Rahayu ( Bu Set ) . Guru Kimia yang berpenampilan cukup nge-Rock.
Sempet sih bikin bulu kuduk
merinding dari cara ia nyapa anak-anak yang kedengeran GIMANA gitu .
Terlebih waktu dia nyapa buat
ngenalin diri.
“ Met pagi anak baru…udah siapa
kan dengan pelajaran Kimia SMA …nama Ibu Setyo Rahayu Salam kenal ..aja …., nah
yang dibangku pojok sebelah kanan maju” .
“ Saya Bu……” Ucapku gemetaran
soalnya ia emang kelihatan galak banget
“ Ya , Kamu ….siapa lagi….?
Rasa
grogi bikin aku bertingkah oon di kesan pertama ku, betul betul, betul, Oon.
“ Namaku Di-Yas Pradhita Abdullah
atau biasa di panggil Di atau Diyas aja,
arti nama Di artinya dua, Yas singkatan yang
aku sukai, semua yang disukai, Aku adalah dua sisi yang suram dengan bahagia
menahanku untuk tetap hidup. Pradhita Abdullah saya menduga nama saya Abdullah
dari Timur Tengah”.
“Stop….Di weleh-weleh….kok serem
banget, ya berikutnya….”
Aku berhenti berceloteh kembali duduk diguyur
angin dingin khas pinggir sawah.
Setelah semua anak ngenalin diri Buset mulai cerita panjang lebar
, enatah apa aja …yang pasti cukup bikin mata ngantuk berat, apalagi temen sebelah gak ada yang berani
ngobrol , gara-gara pada takut semua.
Bruk…..
Aku bener-bener ngantuk , akhirnya
aku Cuma bisa menaro kepalaku dimeja , hari pertama masuk ini bener-bener bikin
bete
kalau
dah gini terpaksa lah aku mulai belanja kesana kemari seperti bisanya aja
berharap bisa nemuin sosok yang bisa dijadikan inpirasi.
Mengenai
itu aku punya dalil yang cukup kuat , semenjak kecil aku emang
punya semacam indera keenam.
Yaitu
dapat menegenal karakter orang hanya dengan ngliat wajah dan cara ngomongnya
aja .
Ya
aku emang gak tau darimana itu datang tapi indera keenam itu udah cukup banyak
ngasih manfaat .
Tanpa
sengaja kulihat berjalan sosok cowok agak gendhut wajahnya terlihat jelas dia
sedang tersenyum, anehnya perasaan dari kelas XIII IPA 2 sampai kelas X.2 yang
berjarak 50 meter, dia terus tersenyum-senyum….?
“Pasta gigi mahal tahu….” Aku
berteriak kencang-kencang
Setelah berteriak aku langsung
jadi bahan tontonan , dua kubu memandangiku. Buset….yang merasa kaget +
dilecehkan dan segerombolan anak kelas XII IPA 2 yang jelas-jelas mentertawakan
diriku, Si wajah hepi itu juga ikut tertawa.
Anak-anak bahkan sampai melirik ke
gigi Buset yang emang mirip model pastagigi, kalau lagi demo Buset sering
sekali senyum-seyum, sampai gigi-gigi nya menyembul memancarkan sinar matahari.
“ Ya Mba Di mau nyumbang lagu apa
kok teriak-teriak sendiri “.
(Waduh…tadi aku gak ngedengerin Buset ngomong)
“Maaf Bu Di keceplosan , maksudnya anak kelas
tiga Bu…”
“ Sudah mau pop, jazz, rock kelihatannya kamu
punya bakat, teriakan kamu itu merdu juga…”.( Marah nie yeh…)
Seisi kelas mulai ribut ada yang
berteriak maju…maju, mundur….maju, maju….mundur…, aku sampai pusing ndenger
mereka.
Akirnya mau gak mau daripada bikin Buset
tambah marah ya mendingan maju
Aku coba buka mulut walau tersa
sangat berat
Diam dan dengarkan
Ini bukan dunia
Diamana ini penuh dengan ironi
Yang tak hanya melelahkan
Tapi………gak ada yang tau
Apa yang aku rasakan dari
Apa yang aku derita
Katakana lah sahabat
Pada dunia yang kau inginkan
Dunia indah itu tidak akan datang
Dan jangan menangis
Semua itu adalah nyata,tentang apa yang kau angap duniamu itu semu
Semua menatapku heran
(Itu anak nyanyi lagu apa...., apaan sih…? Gak tahu ini lagu
apa….?
Semua menatap
heran….heran….seperti menatap badut ancol Aku terus melanjutkan nanyian ku
….dengan suara yang mulai pecah
Aku terus melangkah untuk menjadi korban
untuk menangis….
Dan katakana apa yang harus ku perbuat
Aku ini hanya rahasia yang paling hina
Dari mereka dunia rill
Dan yakainkan aku terus ada di banyangan dunia yang indah
Dan bunuh aku dari dunia rill
Pada saat seperti ini semua
menatap aku dengan tatapanmereka sendiri aku mulai merasakan sebuah angin yang
mendorongku untuk pergi jauh-jauh dari kehidupan mereka. Meski tatpan mereka
hanya tatapan heran semata.
Kali ini aku merasa benar-benar
tersayat lahir batin, aku kembali mengingat semua, semua masa itu.
“ Sudah ya…!. Bu sebentar saya mau
ken…cing (eh kebelakang) ke…belakang bu” .
Ucapku nahan air mata yang bisa
tumpah kapan aja
“ Anak-anak kalau kencing itu
bahasa buat siapa….?”
“Kambing….Bu….!”
Aku Cuma bisa lari gitu aja soalnya
selain lapar , malu aku Juga pingin nangis….pokoknya hatiku itu sudah ibarat
motor ditabrak kereta.
“ Mana toiletnya…? Aku pingin
nangis, kebelet pipis…( saking malunya ) Tak lama aku bisa membuka pintu juga
(tertulis diatas Toilet Pria).
Saat aku buka pintu aku melihat
wajah dengan ekspresi orang tersenyum, betul-betul nyata tampak kebahagiaan terpancar
dari dua bola mata dan senyum di bibirnya.
Dan ini lah yang aku cari, sebuah
mata paling indah dia mensintesis otaku. saat itu yang kulihat hanya…wajahnya….dan
tubuh yang sedang tapi gede, rambut sisir pinggir agak keriting.
Gak ada yang luar biasa dari dia
selain seyum dan matanya.
Aku tepat ada dibawah dagunya itu
bisa melihat dengan jelas, sebuah bibir tipis, hidung mancung, semua
ekspresinya.
Ekspresi itu seperti labirint
makin dilihat aku makin tersesat dalam sebuah pertanyaan.
Apa ini mahluk paling Hepi se
dunia….?, dan aku kira aku sudah menemukan orang itu, seoarang yang telah ku
tunggu ribuan juta detik.
Aku terbawa sebuah ilusi panjang,
aku seperti duduk di sebuah sisi sungai, dan si ”Hepi” duduk di tepi yang lain
dengan pancaran cahaya surga.
Tak terasa mata ini sudah
mengalirkan air mata, mengenang orang tuaku semua ke sialan ku.
Aku benar-benar tak sadar akan
keadaannku gara-gara melihat wajah yang mungkin dari sononya sudah terpasang
senyum…., terlalu indah…., untuk ku….
“ Kenapa…? hello kok tiba-tiba
mewek….” Aku terus tersedu-sedu, menangis menumpahkan semua rasa.
Sambil terus menyeka air mata aku
berusaha njawab ucapanya itu .
“ Nggak apa-apa kok cuma aku benci
semua keadaan ini, terlebih saat aku lihat senyum kamu,
aku ini….
aku ini…..”.
“ Ya aku kenapa…?” ia kembali
obaral senyum .
“ Aku…..iri………aku cemburu…….?”.
bego banget aku bertingkah sudah kelewat batas aneh.
“ Iri……?, Cemburu………..?, apa aku
pernag bikin salah ke Lo..?”
“
Air muka mu…….Hepi banget….” Aku terbata-bata.
“ Kenapa mesti cemburu…? Perasaan
wajahku ini biasa aja deh..?
Terus
soal tadi kamu bilang aku tukang obral senyum kan, nah jawabanya kan harga pasta gigi murah gitu,
Ya namaku Nofit Hepi Pangestu alias
Nofit HP, salam kenal.Ea ngomong-ngomong
kamu kok di toilet cowok….? Ah apa gara-gara saking sedih sampai gak bisa baca
tulisan segede itu”.
Dia kembali tersenyum dan selalu
tersenyum
“ Aku gak sedih, cuman lagi pingin meratapi
nasib”. Aku menjawabnya dengan nada standar, gak ada semangat terkesan
asal-asalan.
“ Apa itu aja alesan kamu …? Lumayan logis
tau..? terusin aja nangisnya. Ehm kayak nya kamu itu anak cerdas dan aku tahu
banget kesedihan seseorang yang punya IQ tinggi. Mereka cenderung berfikir dan bertanya, kadang
mendapat jawaban dari malaikat, kadang dari Setan…, maaf harus ngatain ini ,
tapi kali ini kamu dapet bisikan dari
setan tau….”.
Dia nyodorin sebuah foto,
fotonya ia seolah ingin bilang dilihat
dari mana puun juga dia hanya seoarang anak remaja gak lebih dari itu bahkan ia
ingin memuntahkan semua argumen ku soal air muka dia.
” Sudah ya ku lagi ulangan ,
gimana fotoku biasa aja kan, malah mungkin lebih keren dompet ini…he…he….”
Ucapnya terkekeh-kekeh
“ Aku mohon jangan bilang aku itu
punya wajah hepi dan wajah tanpa maslah……..” ia kembali tersenyum.
Bel melengking tajam, aku bergegas
membersihkan mukaku, Buset sendiri beranjak pergi ke kelas lain.
”
Iya Diyas …coba kerjakan soal ini ”.
suara itu membubuarkab otaku. Gawat pikirku
Dari
tadi aku ngelamun gak jelas dan dari tadi gak tau apa yang ia jelaskan yang
kulihat Cuma soal trigonometri yang berbelit-belit.
“
Saya pak…? ” jawabku tergagap.
“
Iya… ! kamu…”. Di setengah membentak, emh aku tau ia lagi sibuk nanya dalam
hati.
(Duh…ini anak dari tadi ngelamun, ini anak budeg, bolot apa memang wajahnya kaya
IQ jongkok…
Aku melangkah dari bangku paling depan, mulai
mengutak-atik perhitungan Matematika yang cukup rumit, panjang dan
berbelit-belit untung aja bisa selesai.
“ Ya….terima kasih Diyas , (kok anak ini bisa mengerjain )
“ Sama-sama Pak Pane…he…he”. dari six sense yang ku punya ,aku yakin banget
dia ngira aku itu embisi binti idiot.
Sesampainya dirumah aku masih
sibuk ngliat foto yang diberi oleh Mr.Hp
sebutan ku pada si Tukang obral senyum.
“ Kamu ini lucu, imut….”
Aku menatap kembali mukanya, Ia
benar dia bukan Mr senyum yang gak punya masalah, aku gak tau sih apa
masalahnya. Satu yang pasti dia selalu Hepi meski punya masalah.
“Apa gak terlalu bego….?, gak
teralu dini untuk bilang kau orang pertama yang bikin aku jatuh cinta…….?, dan
sosok inspiratif yang selama beberapa
tahun aku cari…..?”.
Saat aku lihat foto itu aku
bahagia dan bisa tersenyum lagi seakan lupa akan masalahku .
Hari ini terasa begitu cepat
terlebih saat aku dapat terus tersenyum, aku tak tahu kenapa tiba-tiba ada
perasaan berlebih, baru kali ini aku begitu menikmati apa yang aku lihat dan
ngerasa bener-bener beruntung punya six sense macam ini.
Sekali lagi hatiku bergejolak,Cinta
dan nge fans berat tertancap di hatiku, ah aku ngerasa jadi benar-benar bego.
*******
Pagi ini dengan camera CCD 12
MPXku, aku mulai mempotret wajahku yang berbaur dengan pinggir sawah, bawah
pohon, rasanya kurang mix aja puluhan kali aku menjepret, mata, pipi, hidung,
alias kumainkan untuk mendapat kesan air muka bahagia.
“ Mau di apain aja air muka melankilis ku gak
bisa ilang juga, ah aku jadi pingin liat Mr Hp lagi.”
Lama sudah aku duduk di depan
rumah, mondar-mandir sampai di depan sawah, aku menunggu sahabat-sahabat ku
Yuke, Sia dan Ratri, ya mereka dalah anak yang suka telat berangkat sekolah.
Biasanya juga aku nunggu jam tujuh
kurang seperempat, ah kok bisa-bisanya aku nunggu dari jam enam…bego amat.
Aku berputar-putar lagi sambil
terus memfoto apa yang ingin aku foto, gak orang gak hewan.
“Di….ayo berangkat……..”. Ratri
meneriaki ku dari pinggir jalan.
Aku bergegas berlari melewati
pematang sawah. “ Di……lagi ngapain di tengah sawah…..?”
“ Lagi iseng…” aku menjawab dengan
nada sambil melompati sebuah irigasi kecil.
“ Yuk berangkat………….”. aku
tersenyum riang
“ Yuk………….”. temen-temen balik
mendungis seprti kucing kelaperan
“ Hayo….lagi jatuh cinta
yahhhhhhhh……” Sia menggoda
Aku hanya membalas dengan sebuah
senyum tipis, bisa lama kalau bicara cinta dengan cewek centil satu ini.
Jalan menuju sekolah begitu ramai, jalan penuh dengan pejalan kaki ada
segerombolan anak berjalan di belakang kami, di hampir kanan kiri banyak sekali
anak cowok melintas .
Saking banyak nya kami tak tau
anak SMA mana aja, yang kami tau semuanya itu tinggal di Cost samping bale
Desa.
Sambil ngobrol dengan temen aku
sempat sempatin memfoto cowok-cowok yang melintas, aku hanya ng Take anak yang
kira-kira punya air muka bahagia.. rajin senyum dan murah senyum.
Aku mulai yakin kalau memang gak
ada duplikat Mr Hp di dunia ini.
“ Memang gak ada wajah yang
seperti wajahmu…!(Mr. HP)” . Aku melihat foto itu dari tas sekolahku.
“Apa….Di…….? makasih banyak ” ucap
Ratri sumringah
Aku sendiri
masih sibuk melihat foto yang terpampang di layar Kameraku, ya sejak
tadi aku lagi ikutan ngobrol masalah muka unik, yups bagi kami gak ada yang
lebih unik dari Ratri.
“Emang
gak ada wajah yang kayak wajah kayak kau itu Rat, rambut kribo, kulit putih,
mata sipit, hidung mancung …..”. Si Yuke balik komentar.
“Iya emang namanya aja Rat (tikus)…..”
Sia ikutan menjatuhkan Ratri.
“Eh……enak aja kamu bilang,
gini-gini bapak ku itu gak kalah sama Kim-Bum, tau…….?”. Ratri mendungis
menampakan gigi-gigi kuning dia
“Iya kalau bapak si ganteng…….tapi
kalau ibunya…..?”
Sambung si Sia keras menggelitik aku dan
beberapa Cowok tetangga Sia. (Ibunya Rat-ri, hitam, keribo, mancung, mata belo
duh…persis hantu aja).
Ratri memerah…muka dia persis
kuntilanak ci cat merah.
“Etz…sudah ni just guyon deh
Rat…” Yuke tersenyum memecah rasa hawa panas yang hampir aja bikin ati kebakar
kami tertawa cekikikan kembali mengundang
beberapa orang untuk menonton ke Bego an kami, kalau malam hari mungkin juga
dikatai kuntilanak 3 rambut lurus, yang satu kribo.
Sesampainya di Sekolah, suasana masih sepi, aku
segera berlari menuju kelas dengan sistem siapa berangkat cepat bebas pilih
tempat.
Aku memilih bangku paling depan kedua dari
kanan menghadap pintu, alasannya simple karena angin bertiup memang sejuk bisa
sedikit ngusir hawa panas kalau udah jam 9 lebih.
Masih dengan perkenalan guru ya gak jauh-jauh
soal nama, sifat, ttl, tepat pukul 07.00 pak Lanjar langsung Stand by. Ah aku
kira dia orang yang lebai.
“Perkenalkan nama saya Lanjar
Bonar Simanjuntak kelahiran dari Sibolga 40 tahun lalu, guru Sejarah, yang
harus kalian ingat soal belajar dengan saya pertama saya gak segan-segan untuk
meremidi masal long time . Bila ada yang kepergok nyontek, eh…tapi jangan takut
juga saya gak bakal gigit santai aja, fine aja yang penting gak ada
contek-contekan dalam bentuk dan format, modus apapun”.
Suasana berubah menegangkan.
Anak-anak diam seribu bahasa termasuk gambicara dengan bahasa tubuh, tampang
killer Si Batak sangat garang, macan aja kalah.
Kali ini Pak Lanjar mati kutu, ia
bingung mau berbuat apa menaggapi reaksi Endoterm anak kelas X2. Ia bicara
banyak dan anak-anak hanya melongo.
“Mba Diyas tolong ambilkan buku ke
kantor” dia berhenti ngomong berjalan kearahku lalu berbisik seperti itu,
sambil mikir mau gimana lagi…
“Iya…pak…dengan senang (terpaksa)
hati”.
Belum apa-apa Pak Lanjar sudah meninggalkan
kesan seram, agresif, killer…terbukti dari reaksi nak-anak sejak awal sampai #0
menit Cuma bisa diam.
Aku menarik tangan Sia untuk
menemani ku jalan ke kantor “Ayo…temeni dong Si”
“Sudah…!! Sendirian aja” Mr Lanjar melotot
persisi di depan Sia.
Terpaksalah aku pergi sendiri, Si
Sia sampai gemetaran gak mungkin juga mau ngajak temen yang lain.
Aku berjalan ekstra ngebut sampai
depan pintu ruang guru…biasalah sambil ngelamun.
Bruk…mukaku menabrak seseorang…,
persis di pintu ruang guru, pintu itu sempit, hanya bisa dilewati 1 orang saja.
“Maaf Bang,
aku gak sengaja…”. Aku tersadar sudah kelamaan ngelamun.
“Gak apa-apa kok , lagi pelajaran
Pak lanjar yah, buru-buru gitu”. Orang itu bicara dengan suara pelan.
“Eh…rupanya kamu lagi Diyas….”.
Si wajah Hepi muncul dari belakang cowok
ganteng. Di dada cowok itu ada bet bertuliskan Bangkit Karnadi, aku
melihat-lihat dia sampai detail.
Ah ini dia cowok idola para
wanita, ia tinggi dengan badan sedang dan mempunyai air muka menyenangkan..,
ehm biar gitu aku lebih suka Si Mr Hp.
“Oh kenalin ini dia cewek yang
kemarin aku ceritain, dia Diyas”. Nofit meberi ku sebuah senyum kecil dan
sebuah tangan sahabatnya.
“ Anak Bule Mba………? ”. Ia terseyum
ke arahku.
“ Gak tau Mas Bangkit……” aku balik
pamer gigi
“Ehm iya kamu mau ngambil buku
yah, maaf malah nahan kamu di depan pintu, ya salam kenal …., yups kami juga
lagi ditungguin pak Janto…”.
“ Yups….dia itu guru paling galak….”. Mr Hp kembali obaral gigi.
“ Yups….dia itu guru paling galak….”. Mr Hp kembali obaral gigi.
Mereka berjaalan jauh ke lapangan
sepak bola, aku terpaku untuk memandangi dua orang itu, Si Bangkit yang
menyenangkan dan si Mr Hp yang misterius.
“Ugh kok jadi berat…?”. sepertinya tanganku mendapat sesuatu yang
berat dan tebel .
“ Walah-walah rupanya Pak Lanjar nyuruh kamu,
di suruh koh malah neglamun di tengah jalan, Ibu jadi gak bisa lewat, ea tuh
tadi Lanjar bilang suruh cepetan…..”. Buset geleng-geleng kepala
( dari kemarin gak berubah juga ngelmun
terus) ia berkomentar dalah hati.
“Maaf Bu Setyo…, terima kasih
bukunya…”
“ Iya udah……?, minggir ibu mau
lewat…”.
Aku langsung minggir, dan
cepat-cepat kembali ke kelas.
Aku menyusuri pinggir lorong-lorong kelas, tepi
kelas di SMA kami adalah sawah becek yang baru saja selesai di traktor. Batas
antara sawah dan kelas hanya sebuah teras kecil selebar 2 meter.
Sebelum membuka pintu kelas entah
kenapa aku terjungkal kebelakang, terpeleset tubuhku menggelinding masuk sawah,
bruk…semuanya basah….ah…tolong (begindrong nih…sekolahan masih ada sawahnya).
Semua orang melihat ke bego an ku.
Sial……..banget sih nasibku………!.
“Ayo anak
bebek naik, betah disitu…..?” Aku tersenyum menerima uluran tangannya itu, Mr.
HP yang selalu Hepi.
Aku jadi ke Gr an, banyak sekali
yang mengkrubuti aku ah tapi dia yang ngasih tanganya bukan aku yang minta dia
mengangkat ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar