Minggu, 08 April 2012

Mr Hp 3


Ketemu Mr. HP
Wajah dan Mix Smile

Hari….pertama dan pelajaran pertama….
Fisika, Kimia, Biologi, Matematika….
 Dan selalu saja ada sebuah perkenalan untuk mengawali sebuah pertemuan.
 Berhubung  guru Fisika, Biologi, Matematika lagi  study banding ke Sibolga, jam pertama diisi Bu Setyo Rahayu ( Bu Set ) . Guru Kimia yang berpenampilan cukup nge-Rock.
Sempet sih bikin bulu kuduk merinding dari cara ia nyapa anak-anak yang kedengeran GIMANA gitu .
Terlebih waktu dia nyapa buat ngenalin diri.
“ Met pagi anak baru…udah siapa kan dengan pelajaran Kimia SMA …nama Ibu Setyo Rahayu Salam kenal ..aja …., nah yang dibangku pojok sebelah kanan maju” .
“ Saya Bu……” Ucapku gemetaran soalnya ia emang kelihatan galak banget
“ Ya , Kamu ….siapa lagi….?
            Rasa grogi bikin aku bertingkah oon di kesan pertama ku, betul betul,  betul, Oon.
“ Namaku Di-Yas Pradhita Abdullah atau biasa di panggil Di atau Diyas  aja,
 arti nama Di artinya dua, Yas singkatan yang aku sukai, semua yang disukai, Aku adalah dua sisi yang suram dengan bahagia menahanku untuk tetap hidup. Pradhita Abdullah saya menduga nama saya Abdullah dari Timur Tengah”.
“Stop….Di weleh-weleh….kok serem banget, ya berikutnya….”
 Aku berhenti berceloteh kembali duduk diguyur angin dingin khas pinggir sawah.
Setelah semua anak  ngenalin diri Buset mulai cerita panjang lebar , enatah apa aja …yang pasti cukup bikin mata ngantuk berat,  apalagi temen sebelah gak ada yang berani ngobrol , gara-gara pada takut semua.
Bruk…..
Aku bener-bener ngantuk , akhirnya aku Cuma bisa menaro kepalaku dimeja , hari pertama masuk ini bener-bener bikin bete
     kalau dah gini terpaksa lah aku mulai belanja kesana kemari seperti bisanya aja berharap bisa nemuin sosok yang bisa dijadikan inpirasi.
     Mengenai itu aku punya dalil yang cukup kuat , semenjak kecil  aku  emang punya semacam indera keenam.
            Yaitu dapat menegenal karakter orang hanya dengan ngliat wajah dan cara ngomongnya aja .
            Ya aku emang gak tau darimana itu datang tapi indera keenam itu udah cukup banyak ngasih manfaat .
            Tanpa sengaja kulihat berjalan sosok cowok agak gendhut wajahnya terlihat jelas dia sedang tersenyum, anehnya perasaan dari kelas XIII IPA 2 sampai kelas X.2 yang berjarak 50 meter, dia terus tersenyum-senyum….?
“Pasta gigi mahal tahu….” Aku berteriak kencang-kencang
Setelah berteriak aku langsung jadi bahan tontonan , dua kubu memandangiku. Buset….yang merasa kaget + dilecehkan dan segerombolan anak kelas XII IPA 2 yang jelas-jelas mentertawakan diriku, Si wajah hepi itu juga ikut tertawa.
Anak-anak bahkan sampai melirik ke gigi Buset yang emang mirip model pastagigi, kalau lagi demo Buset sering sekali senyum-seyum, sampai gigi-gigi nya menyembul memancarkan sinar matahari.
“ Ya Mba Di mau nyumbang lagu apa kok teriak-teriak sendiri “.
 (Waduh…tadi aku  gak ngedengerin Buset ngomong)
 “Maaf Bu Di keceplosan , maksudnya anak kelas tiga Bu…”
 “ Sudah mau pop, jazz, rock kelihatannya kamu punya bakat, teriakan kamu itu merdu juga…”.( Marah nie yeh…)
Seisi kelas mulai ribut ada yang berteriak maju…maju, mundur….maju, maju….mundur…, aku sampai  pusing  ndenger mereka.
 Akirnya mau gak mau daripada bikin Buset tambah marah ya mendingan maju
Aku coba buka mulut walau tersa sangat berat

Diam dan dengarkan
Ini bukan dunia
Diamana ini penuh dengan ironi
Yang tak hanya melelahkan
Tapi………gak ada yang tau
Apa yang aku rasakan dari
Apa yang aku derita
Katakana lah sahabat
Pada dunia yang kau inginkan
Dunia indah itu tidak akan datang
Dan jangan menangis
Semua itu adalah nyata,tentang apa yang kau angap duniamu itu semu

Semua menatapku heran
(Itu anak nyanyi lagu apa...., apaan sih…? Gak tahu ini lagu apa….?
 Semua menatap heran….heran….seperti menatap badut ancol Aku terus melanjutkan nanyian ku ….dengan suara yang mulai pecah
Aku terus melangkah untuk menjadi korban
untuk menangis….
Dan katakana apa yang harus ku perbuat
Aku ini hanya rahasia yang paling hina
Dari mereka dunia rill
Dan yakainkan aku terus ada di banyangan dunia yang indah
Dan bunuh aku dari dunia rill
Pada saat seperti ini semua menatap aku dengan tatapanmereka sendiri aku mulai merasakan sebuah angin yang mendorongku untuk pergi jauh-jauh dari kehidupan mereka. Meski tatpan mereka hanya tatapan heran semata.
Kali ini aku merasa benar-benar tersayat lahir batin, aku kembali mengingat semua, semua masa itu.
“ Sudah ya…!. Bu sebentar saya mau ken…cing (eh kebelakang) ke…belakang bu” .
Ucapku nahan air mata yang bisa tumpah kapan aja
“ Anak-anak kalau kencing itu bahasa buat siapa….?”
 “Kambing….Bu….!”
Aku Cuma bisa lari gitu aja soalnya selain lapar , malu aku Juga pingin nangis….pokoknya hatiku itu sudah ibarat motor ditabrak kereta.
“ Mana toiletnya…? Aku pingin nangis, kebelet pipis…( saking malunya ) Tak lama aku bisa membuka pintu juga (tertulis diatas Toilet Pria).
Saat aku buka pintu aku melihat wajah dengan ekspresi orang tersenyum,  betul-betul nyata tampak kebahagiaan terpancar dari dua bola mata dan senyum di bibirnya.
Dan ini lah yang aku cari, sebuah mata paling indah dia mensintesis otaku. saat itu yang kulihat hanya…wajahnya….dan tubuh yang sedang tapi gede, rambut sisir pinggir agak keriting.
Gak ada yang luar biasa dari dia selain seyum dan matanya.
Aku tepat ada dibawah dagunya itu bisa melihat dengan jelas, sebuah bibir tipis, hidung mancung, semua ekspresinya.
Ekspresi itu seperti labirint makin dilihat aku makin tersesat dalam sebuah pertanyaan.
Apa ini mahluk paling Hepi se dunia….?, dan aku kira aku sudah menemukan orang itu, seoarang yang telah ku tunggu ribuan juta detik.
Aku terbawa sebuah ilusi panjang, aku seperti duduk di sebuah sisi sungai, dan si ”Hepi” duduk di tepi yang lain dengan pancaran cahaya surga.
Tak terasa mata ini sudah mengalirkan air mata, mengenang orang tuaku semua ke sialan ku.
Aku benar-benar tak sadar akan keadaannku gara-gara melihat wajah yang mungkin dari sononya sudah terpasang senyum…., terlalu indah…., untuk ku….
“ Kenapa…? hello kok tiba-tiba mewek….” Aku terus tersedu-sedu, menangis menumpahkan semua rasa.
Sambil terus menyeka air mata aku berusaha njawab ucapanya itu .
“ Nggak apa-apa kok cuma aku benci semua keadaan ini, terlebih saat aku lihat senyum kamu,
aku ini….
aku ini…..”.
“ Ya aku kenapa…?” ia kembali obaral senyum .
“ Aku…..iri………aku cemburu…….?”. bego banget aku bertingkah sudah kelewat batas aneh.
“ Iri……?, Cemburu………..?, apa aku pernag bikin salah ke Lo..?”
            “ Air muka mu…….Hepi banget….” Aku terbata-bata.
“ Kenapa mesti cemburu…? Perasaan wajahku ini biasa aja deh..?
Terus soal tadi kamu bilang aku tukang obral senyum kan, nah jawabanya kan  harga pasta gigi murah  gitu,
Ya namaku Nofit Hepi Pangestu alias Nofit HP, salam kenal.Ea  ngomong-ngomong kamu kok di toilet cowok….? Ah apa gara-gara saking sedih sampai gak bisa baca tulisan segede itu”.
Dia kembali tersenyum dan selalu tersenyum 
 “ Aku gak sedih, cuman lagi pingin meratapi nasib”. Aku menjawabnya dengan nada standar, gak ada semangat terkesan asal-asalan.
 “ Apa itu aja alesan kamu …? Lumayan logis tau..? terusin aja nangisnya. Ehm kayak nya kamu itu anak cerdas dan aku tahu banget kesedihan seseorang yang punya IQ tinggi.  Mereka cenderung berfikir dan bertanya, kadang mendapat jawaban dari malaikat, kadang dari Setan…, maaf harus ngatain ini , tapi kali ini  kamu dapet bisikan dari setan tau….”.
Dia nyodorin sebuah foto, fotonya  ia seolah ingin bilang dilihat dari mana puun juga dia hanya seoarang anak remaja gak lebih dari itu bahkan ia ingin memuntahkan semua argumen ku soal air muka dia.
” Sudah ya ku lagi ulangan , gimana fotoku biasa aja kan, malah mungkin lebih keren dompet ini…he…he….” Ucapnya terkekeh-kekeh
“ Aku mohon jangan bilang aku itu punya wajah hepi dan wajah tanpa maslah……..” ia kembali tersenyum.
 Bel melengking tajam, aku bergegas membersihkan mukaku, Buset sendiri beranjak pergi ke kelas lain.
Otaku mulai berputar berfikir tentang Mr. Hp itu,  baru pertama kali ini aku lihat wajah seperti itu indahnya, sampai…aku gak konsen pelajaran ,terlebih saat pelajaran matematika yang kebetulan dimajuin dari yang harusnya buat besok Sabtu.
” Iya  Diyas …coba kerjakan soal ini ”. suara itu membubuarkab otaku. Gawat pikirku
Dari tadi aku ngelamun gak jelas dan dari tadi gak tau apa yang ia jelaskan yang kulihat Cuma soal trigonometri yang berbelit-belit.
“ Saya pak…? ” jawabku tergagap.
“ Iya… ! kamu…”. Di setengah membentak, emh aku tau ia lagi sibuk nanya dalam hati.
 (Duh…ini anak dari tadi ngelamun,  ini anak budeg, bolot apa memang wajahnya kaya IQ jongkok…
 Aku melangkah dari bangku paling depan, mulai mengutak-atik perhitungan Matematika yang cukup rumit, panjang dan berbelit-belit untung aja bisa  selesai.
 “ Ya….terima kasih Diyas , (kok anak ini  bisa mengerjain )
“ Sama-sama Pak Pane…he…he”.  dari six sense yang ku punya ,aku yakin banget dia ngira aku itu embisi binti idiot.
Sesampainya dirumah aku masih sibuk ngliat foto yang diberi oleh  Mr.Hp  sebutan ku pada si Tukang obral senyum.
“ Kamu ini lucu, imut….”
Aku menatap kembali mukanya, Ia benar dia bukan Mr senyum yang gak punya masalah, aku gak tau sih apa masalahnya. Satu yang pasti dia selalu Hepi meski punya masalah.
“Apa gak terlalu bego….?, gak teralu dini untuk bilang kau orang pertama yang bikin aku jatuh cinta…….?, dan sosok inspiratif  yang selama beberapa tahun aku cari…..?”.
Saat aku lihat foto itu aku bahagia dan bisa tersenyum lagi seakan lupa akan masalahku .
Hari ini terasa begitu cepat terlebih saat aku dapat terus tersenyum, aku tak tahu kenapa tiba-tiba ada perasaan berlebih, baru kali ini aku begitu menikmati apa yang aku lihat dan ngerasa bener-bener beruntung punya six sense macam ini.
Sekali lagi hatiku bergejolak,Cinta dan nge fans berat tertancap di hatiku, ah aku ngerasa jadi benar-benar bego.
*******
Pagi ini dengan camera CCD 12 MPXku, aku mulai mempotret wajahku yang berbaur dengan pinggir sawah, bawah pohon, rasanya kurang mix aja puluhan kali aku menjepret, mata, pipi, hidung, alias kumainkan untuk mendapat kesan air muka bahagia.
 “ Mau di apain aja air muka melankilis ku gak bisa ilang juga, ah aku jadi pingin liat Mr Hp lagi.”
Lama sudah aku duduk di depan rumah, mondar-mandir sampai di depan sawah, aku menunggu sahabat-sahabat ku Yuke, Sia dan Ratri, ya mereka dalah anak yang suka telat berangkat sekolah.
Biasanya juga aku nunggu jam tujuh kurang seperempat, ah kok bisa-bisanya aku nunggu dari jam enam…bego amat.
Aku berputar-putar lagi sambil terus memfoto apa yang ingin aku foto, gak orang gak hewan.
“Di….ayo berangkat……..”. Ratri meneriaki ku dari pinggir jalan.
Aku bergegas berlari melewati pematang sawah. “ Di……lagi ngapain di tengah sawah…..?”
“ Lagi iseng…” aku menjawab dengan nada sambil melompati sebuah irigasi kecil.
“ Yuk berangkat………….”. aku tersenyum riang
“ Yuk………….”. temen-temen balik mendungis seprti kucing kelaperan
“ Hayo….lagi jatuh cinta yahhhhhhhh……” Sia menggoda
Aku hanya membalas dengan sebuah senyum tipis, bisa lama kalau bicara cinta dengan cewek centil satu ini.
Jalan menuju sekolah begitu ramai,  jalan penuh dengan pejalan kaki ada segerombolan anak berjalan di belakang kami, di hampir kanan kiri banyak sekali anak cowok melintas .
Saking banyak nya kami tak tau anak SMA mana aja, yang kami tau semuanya itu tinggal di Cost samping bale Desa.
Sambil ngobrol dengan temen aku sempat sempatin memfoto cowok-cowok yang melintas, aku hanya ng Take anak yang kira-kira punya air muka bahagia.. rajin senyum dan murah senyum.
Aku mulai yakin kalau memang gak ada duplikat Mr Hp di dunia ini.
“ Memang gak ada wajah yang seperti wajahmu…!(Mr. HP)” . Aku melihat foto itu dari tas sekolahku. 
“Apa….Di…….? makasih banyak ” ucap Ratri sumringah
 Aku sendiri  masih sibuk melihat foto yang terpampang di layar Kameraku, ya sejak tadi aku lagi ikutan ngobrol masalah muka unik, yups bagi kami gak ada yang lebih unik dari  Ratri.
     “Emang gak ada wajah yang kayak wajah kayak kau itu Rat, rambut kribo, kulit putih, mata sipit, hidung mancung …..”. Si Yuke balik komentar.
“Iya emang namanya aja Rat (tikus)…..” Sia ikutan menjatuhkan Ratri.
“Eh……enak aja kamu bilang, gini-gini bapak ku itu gak kalah sama Kim-Bum, tau…….?”. Ratri mendungis menampakan gigi-gigi kuning dia
“Iya kalau bapak si ganteng…….tapi kalau ibunya…..?”
 Sambung si Sia keras menggelitik aku dan beberapa Cowok tetangga Sia. (Ibunya Rat-ri, hitam, keribo, mancung, mata belo duh…persis hantu aja).
Ratri memerah…muka dia persis kuntilanak ci cat merah.
 “Etz…sudah ni just guyon deh Rat…” Yuke tersenyum memecah rasa hawa panas yang hampir aja bikin ati kebakar
 kami tertawa cekikikan kembali mengundang beberapa orang untuk menonton ke Bego an kami, kalau malam hari mungkin juga dikatai kuntilanak 3 rambut lurus, yang satu kribo.
Sesampainya di Sekolah, suasana masih sepi, aku segera berlari menuju kelas dengan sistem siapa berangkat cepat bebas pilih tempat.
 Aku memilih bangku paling depan kedua dari kanan menghadap pintu, alasannya simple karena angin bertiup memang sejuk bisa sedikit ngusir hawa panas kalau udah jam 9 lebih.
 Masih dengan perkenalan guru ya gak jauh-jauh soal nama, sifat, ttl, tepat pukul 07.00 pak Lanjar langsung Stand by. Ah aku kira dia orang yang lebai.
“Perkenalkan nama saya Lanjar Bonar Simanjuntak kelahiran dari Sibolga 40 tahun lalu, guru Sejarah, yang harus kalian ingat soal belajar dengan saya pertama saya gak segan-segan untuk meremidi masal long time . Bila ada yang kepergok nyontek, eh…tapi jangan takut juga saya gak bakal gigit santai aja, fine aja yang penting gak ada contek-contekan dalam bentuk dan format, modus apapun”.
Suasana berubah menegangkan. Anak-anak diam seribu bahasa termasuk gambicara dengan bahasa tubuh, tampang killer Si Batak sangat garang, macan aja kalah.
Kali ini Pak Lanjar mati kutu, ia bingung mau berbuat apa menaggapi reaksi Endoterm anak kelas X2. Ia bicara banyak dan anak-anak hanya melongo.
“Mba Diyas tolong ambilkan buku ke kantor” dia berhenti ngomong berjalan kearahku lalu berbisik seperti itu, sambil mikir mau gimana lagi…
“Iya…pak…dengan senang (terpaksa) hati”.
 Belum apa-apa Pak Lanjar sudah meninggalkan kesan seram, agresif, killer…terbukti dari reaksi nak-anak sejak awal sampai #0 menit Cuma bisa diam.
Aku menarik tangan Sia untuk menemani ku jalan ke kantor “Ayo…temeni dong Si”
 “Sudah…!! Sendirian aja” Mr Lanjar melotot persisi di depan Sia.
Terpaksalah aku pergi sendiri, Si Sia sampai gemetaran gak mungkin juga mau ngajak temen yang lain.
Aku berjalan ekstra ngebut sampai depan pintu ruang guru…biasalah sambil ngelamun.
Bruk…mukaku menabrak seseorang…, persis di pintu ruang guru, pintu itu sempit, hanya bisa dilewati 1 orang saja.
 “Maaf Bang,  aku gak sengaja…”. Aku tersadar sudah kelamaan ngelamun.
“Gak apa-apa kok , lagi pelajaran Pak lanjar yah, buru-buru gitu”. Orang itu bicara dengan suara pelan.
“Eh…rupanya kamu lagi Diyas….”.
 Si wajah Hepi muncul dari belakang cowok ganteng. Di dada cowok itu ada bet bertuliskan Bangkit Karnadi, aku melihat-lihat dia sampai detail.
Ah ini dia cowok idola para wanita, ia tinggi dengan badan sedang dan mempunyai air muka menyenangkan.., ehm biar gitu aku lebih suka Si Mr Hp.
“Oh kenalin ini dia cewek yang kemarin aku ceritain, dia Diyas”. Nofit meberi ku sebuah senyum kecil dan sebuah tangan sahabatnya.
“ Anak Bule Mba………? ”. Ia terseyum ke arahku.
“ Gak tau Mas Bangkit……” aku balik pamer gigi
“Ehm iya kamu mau ngambil buku yah, maaf malah nahan kamu di depan pintu, ya salam kenal …., yups kami juga lagi ditungguin pak Janto…”.
            “ Yups….dia itu guru paling galak….”. Mr Hp kembali obaral gigi.
Mereka berjaalan jauh ke lapangan sepak bola, aku terpaku untuk memandangi dua orang itu, Si Bangkit yang menyenangkan dan si Mr Hp yang misterius.
“Ugh kok jadi berat…?”.  sepertinya tanganku mendapat sesuatu yang berat dan tebel .
 “ Walah-walah rupanya Pak Lanjar nyuruh kamu, di suruh koh malah neglamun di tengah jalan, Ibu jadi gak bisa lewat, ea tuh tadi Lanjar bilang suruh cepetan…..”. Buset geleng-geleng kepala
( dari kemarin gak berubah juga ngelmun terus) ia berkomentar dalah hati.
“Maaf Bu Setyo…, terima kasih bukunya…”
“ Iya udah……?, minggir ibu mau lewat…”.
Aku langsung minggir, dan cepat-cepat kembali ke kelas.
Aku  menyusuri pinggir lorong-lorong kelas, tepi kelas di SMA kami adalah sawah becek yang baru saja selesai di traktor. Batas antara sawah dan kelas hanya sebuah teras kecil selebar 2 meter.
Sebelum membuka pintu kelas entah kenapa aku terjungkal kebelakang, terpeleset tubuhku menggelinding masuk sawah, bruk…semuanya basah….ah…tolong (begindrong nih…sekolahan masih ada sawahnya).
Semua orang melihat ke bego an ku. Sial……..banget sih nasibku………!.
 “Ayo anak bebek naik, betah disitu…..?” Aku tersenyum menerima uluran tangannya itu, Mr. HP yang selalu Hepi.
Aku jadi ke Gr an, banyak sekali yang mengkrubuti aku ah tapi dia yang ngasih tanganya bukan aku yang minta dia mengangkat ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar